Punya 370 Sanggar Seni, Lembaga Kebudayaan Betawi Enggan Ikut Politik Praktis

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTAРLembaga kebudayaan betawi enggan terlibat dalam politik praktis. Sikap ini telah ditunjukkan oleh lembaga ini dalam pemilu serentak pada Februari lalu.

Sikap yang sama pula ditunjukkan oleh lembaga ini pada Pilkada DKI Jakarta yang akan dilakukan tahun 2024 ini.

Meskipun memiliki 370 sanggar seni dibawah naungannya, lembaga kebudayaan betawi tak mau menjadi mesin politik.

“Prinsipnya, lembaga kebudayaan betawi itu bukanlah mesin pemenangan. Kami konsentrasi pada pengembangan, perlindungan budaya betawi. Jadi kami sudah bersepakat ke situ,” kata Imbong Hasbullah, selaku Sekjen lembaga kebudayaan betawi saat ditemui di kantornya, Gedung Nyi Ageng Serang, Jalan HR Rasuna Said, Senin (6/5/2024).

Imbong mengatakan pihaknya pun membatasi hal-hal di luar program tersebut.

Baca juga: Tokoh-tokoh Ini Masuk Rekomendasi Bakal Calon Gubernur Jakarta versi Bamus Betawi 1982

Tak kepikiran politik, ia menyebut masih banyak pekerjaan rumah lembaga kebudayaan betawi.

“Di kamilah pencarian data warisan budaya harta benda. Jadi tiap tahun kami ada target. Ditambah pula HAKI komunal hingga objek kemajuan kebudayaan.

“Jadi cukup banyak pekerjaan kami dan energi telah habis ke sana. Kalau pun mau? Itu hanya secara personal saja. Secara organisasi tidak,” ucapnya.

Meski begitu, Imbong mengatakan harapannya agar putra putri betawi bisa ikut kontestasi dan jadi pemimpin Jakarta nantinya.

Lembaga kebudayaan betawi pada dasarnya mendukung siapapun yang terpilih menjadi orang nomor satu di Jakarta.

“Ini kan one man one foot. Jadi pintar-pintar saja calon gubernur memberikan programnya supaya menarik untuk dipilih,” ujarnya.

Baca juga: Cerita Bamus Betawi 1982 Sarankan Gubernur Ditunjuk Presiden demi Pemimpin Warga Asli Jakarta

Sejauh ini, perhatian terhadap budaya betawi menurut Imbong masih 50:50 (belum sepenuhnya).

Baca Juga  Jika PKS Menang Pemilu, DKI Jakarta Ibu Kota Negara, IKN Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Banyak hal yang diinginkan pihaknya butuh penyesuaian.

Beralihnya status Jakarta dari daerah khusus ibukota menjadi daerah khusus Jakarta disambut pula oleh pihaknya.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *