Video Viral Kepala BMKG Sebut Gempa 8,7 SR Lumpuhkan Jakarta, Ini Kata Dwikorita Karnawati

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA– Viral video di TikTok berisi peringatan bahwa akan terjadi kelumpuhan Jakarta akibat gempa megathrust yang seolah-olah berasal dari Kepala BMKG Dwikorita Karnawati .

Video yang membuat khawatir warga tersebut, kata Dwikorita Karnawati, telah diedit dan dipotong-potong sehingga keluar dari konteks sesungguhnya. 

Meski demikian, Dwikoritas mengakui video tersebut berasal dari rekaman dirinya saat rapat dengan DPR RI.

Akibat proses editing yang tidak bertanggung jawab tersebut, kata Dwikorita, informasi yang sampai ke masyarakat bisa berbeda dari informasi yang sesungguhnya ia berikan.

Menurutnya, video tersebut berpotensi meresahkan warga masyarakat.  

Baca juga: Getaran Gempa M5,7 Banten Terasa hingga ke Depok, Damkar Depok: Masih Nihil Kerusakan

“(Video) itu adalah rekaman saat rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR-RI pada hari Kamis tanggal 14 Maret 2024 di Senayan, Jakarta,” ungkap Dwikorita dalam keterangan tertulis, Minggu (17/3/2024).

“Saya tengah memberi penjelasan kepada anggota dewan mengenai alasan perlunya pembangunan Gedung Operasional Peringatan Dini Tsunami atau Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) di Bali,” lanjut dia. 

Dwikorita menjelaskan, kata lumpuh yang dimaksudkan di hadapan Anggota Komisi V DPR RI adalah terputusnya jaringan komunikasi yang disebabkan oleh rusaknya berbagai infrastruktur komunikasi, yakni Base Transceiver Station (BTS), akibat gempa megathrust.

Hal itulah yang coba diantisipasi oleh BMKG dengan membangunan Gedung Operasional Peringatan Dini Tsunami atau InaTEWS sebagai fungsi back-up atau cadangan di Bali, meskipun di Jakarta sudah ada.

Keberadaan gedung InaTEWS di Bali ini merupakan sebagai bagian dari mitigasi dan manajemen risiko dalam kondisi darurat apabila sewaktu-waktu operasional InaTEWS di Kemayoran, Jakarta, mengalami kelumpuhan.

Menurut Dwikorita, pembangunan Gedung InaTEWS didasarkan pada skenario terburuk, yaitu apabila gempa terjadi di lepas pantai Samudra Hindia pada jarak kurang lebih dari 250 kilometer dari tepi pantai.

Baca Juga  VIDEO Demokrat Maunya Moeldoko Minta Maaf ke SBY dan AHY, Jabat Tangan Saja Tak Cukup

Dalam skenario terburuk tersebut, gempa megathrust berkekuatan M 8.7 diperkirakan dampaknya mampu melumpuhkan operasional InaTEWS BMKG di Jakarta lantaran terputusnya atau lumpuhnya jaringan komunikasi, ataupun robohnya Gedung Operasional lama yang tidak disiapkan tahan gempa dan likuefaksi.

“Maka, sebagai upaya manajemen risiko demi keberlanjutan operasional sistem peringatan dini, Gedung Operasional InaTEWS yang lama perlu dibangun kembali dengan standar bangunan tahan gempa dan tahan likuifaksi. Bangunan yang saat ini ditempati merupakan bekas Gedung Bandara Kemayoran yang dibangun di tahun 1980 an,” papar Dwikorita. 



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *